28/07/2026

DELEGASI INDONESIA INISIASI KERJASAMA “INDONESIA – KOREA CARBON CORRIDOR”

“Permintaan Carbon dari Korea akan Meledak.”

JAKARTA (koranrepublika.com) – Delegasi Indonesia telah menggalang upaya penting mewujudkan “Indonesia – Korea Carbon Corridor.” Menurut Ketua delegasi itu, melalui kerjasama Bilateral Carbon ini, delegasi ingin membuka akses yang lebih luas bagi proyek-proyek karbon nasional menuju pasar, investasi, dan kemitraan global.

Founder & CEO PT Visi Carbon Indonesia (VCarboN) Group Dr (HC) Heppy Trenggono, menegaskan hal itu di Jakarta hari ini (27/7). “Kerjasama Carbon antara Indonesia – Korea dengan pendekatan busniess to business ini, tentu dengan tetap menjaga integritas, kedaulatan, serta manfaat ekonomi sebesar-besarnya tetap untuk Indonesia,” ujar Heppy.

Heppy Trenggono, mewakili sejumlah pelaku industri proyek karbon di Tanah Air, menginisiasi langkah strategis membangun Indonesia–Korea Carbon Corridor pada 23–24 Juli 2026. Pertemuan itu untuk membahas peluang investasi dan pengembangan kerja sama karbon berbasis alam antara Indonesia dan Republik Korea.

Dalam roadshow tersebut, delegasi bertemu dengan Dr. Chongho Park, Executive Director Asian Forest Cooperation Organization (AFoCO) yang juga mantan Mentri Kehutanan Korea, didampingi Sunpil Jin, Vice Executive Director AFoCO. Delegasi juga mengadakan pertemuan dengan Nam-Kyu (Kyle) Kim, CEO SK Multi Utility, jajaran SK Gas, Minho Kim, Project Director Korea Midland Power (KOMIPO), serta Jason SeokHyun Yun, CEO Green Harbor Investment, bersama tim manajemen seniornya.

Heppy menambahkan, permintaan carbon dari Korea dalam dua tahun ke depan akan mulai meledak. “Maka dari itu, peluang ini mesti segera ditangkap oleh Indonesia. Karena suplay karbon berintegritas tinggi akan sangat sulit,” tandas Inisiator Gerakan Bela dan Beli Indonesia ini.

Founder United Balmuda ini menambahkan, pada serangkaian pertemuan itu, pembahasan berfokus pada peluang investasi di sektor karbon berbasis alam Indonesia. “Kita akan secara bersama mengembangkan proyek carbon berintegritas tinggi, serta implementasi kerja sama bilateral di bawah Article 6 Paris Agreement, ” ujar Heppy.

Momentum tersebut, menurut Heppy, menjadi semakin penting setelah Indonesia dan Republik Korea membangun kerangka kerja sama untuk mendukung kolaborasi karbon antara kedua negara.

Menurut Presiden Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) ini, meningkatnya perhatian berbagai institusi Korea Selatan menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap solusi dekarbonisasi kini berkembang. Dari semula sekadar pembelian kredit karbon, kini menjadi kemitraan jangka panjang.

“Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi mitra strategis Korea Selatan dalam mendukung agenda dekarbonisasi melalui proyek-proyek karbon berbasis alam yang memiliki tata kelola dan integritas yang kuat,” ujar Heppy.

Pertemuan ini, menurut Heppy Trenggono, menjadi langkah awal untuk membangun kolaborasi bilateral yang menghubungkan potensi besar proyek karbon Indonesia dengan investasi, teknologi, dan kebutuhan dekarbonisasi Korea Selatan.

AGENDA LANJUTAN

Pada kesempatan yang sama, Heppy menambahkan, agenda lanjutan dari pertemuan itu adalah pertemuan bersama KOMIPO (Korea Midland Power). “Ini salah satu perusahaan pembangkit listrik utama Korea Selatan dan SK Group, konglomerasi global Korea yang memiliki bisnis di sektor energi, teknologi, semikonduktor, baterai, dan solusi dekarbonisasi,” jelasnya.

VCarboN Group merupakan platform pengembangan aset karbon berbasis alam (Nature-based Solutions). Perusahaan ini mengembangkan proyek karbon dengan pendekatan governance-driven, mengintegrasikan pengembangan aset, tata kelola, pengembangan proyek, dan komersialisasi karbon dalam satu platform.

VCarboN telah mengembangkan portofolio proyek karbon berbasis gambut dan mangrove di Indonesia. Proyek ini untuk mendukung kebutuhan pasar karbon internasional, baik melalui pasar sukarela maupun peluang kerja sama di bawah Article 6 Paris Agreement .

Heppy menambahkan, rangkaian pertemuan tersebut menjadi langkah awal dalam membangun hubungan jangka panjang antara Indonesia dan Korea Selatan di sektor ekonomi karbon. “Kita berharap inisiatif ini bisa mendorong investasi, pengembangan proyek, serta kerja sama iklim yang saling menguntungkan bagi kedua negara,” jelasnya.

TARGET DECARBONISASI KOREA

Sementara itu, data dari VCarboN menyebutkan, Korea Selatan menargetkan zero emisi pada 2050. Pada 2035 Korea menargetkan ada penurunan emisi sebesar 53%, dengan sektor Industri ditargetkan menurunkan emisi sampai 24,3%.

Bursa Trading Carbon Korea diluncurkan pada 2015. Sistem Trading Carbon ini merupakan sistem perdagangan emisi carbon pertama di Asia Timur. Trading carbon ini mencakup sekitar 75% gas rumah kaca nasional Korea Selatan.

Para periode ke-4 trading emisi carbon ini, Korea Selatan telah menetapkan total batas emisi sekitar 2,54 miliar ton karbon dioksida ekuivalen (tCO₂e) untuk lima tahun ke depan. Ini adalah kuota maksimal jumlah Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang boleh dilepaskan ke udara.

Sebelumnya, pada 6 Juni 2024, Indonesia dan Republik Korea menandatangani MoU Implementasi Article 6 Paris Agreement. Kerja sama tersebut mendorong perusahaan kedua negara mengembangkan proyek penurunan emisi di Indonesia dengan dukungan pendanaan dari Menteri Perdagangan, Industri dan Energi Korea Selatan. (tor)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *